Cinta Tanpa Syarat

Seperti biasa aku masih termangu di tepi pantai, menunggu jejaknya kembali. Indahnya lautan biru yang memeluk erat pantai putih bersih tak dapat mengubah suasana dalam hatiku. Langit kelabu memancarkan perasaanku yang muram. Aku tak bisa melepaskan jejaknya dari fikiranku. Bersama batu karang yang selama 3 tahun ini terus menemaniku dalam diam. Keadaannya yang kokoh memperkuatkan aku, seakan – akan mengingatkanku untuk terus semangat dan jangan berputus asa menanti. Sendirian di pantai, baju putihku melambai – lambai tertiup angin. Pikiranku menerawang di suatu masa…

Ketika itu aku sedang gundah, entah mengapa tiba – tiba muncul sosoknya yang sambil tersenyum menghampiriku. Aku selalu melarikan diri ke pantai ketika sedang dirudung masalah. Dan di sanalah aku bertemu dengan dirinya. “Hei” sapanya kepadaku. Semula aku tak memperhatikannya. Biarkan saja, toh nanti dia pergi sendiri, kataku kepada diri sendiri di dalam hati. Dia adalah sosok yang tak mudah menyerah. Segala cara dilakukannya. Mulai dari pura –pura tenggelam, keselek, apa saja dilakukannya untuk mengajakku berbicara kepadanya. Haha aku tertawa kecil melihat tingkahnya. “fuiih, tuh kan kamu bisa bicara. Aku kira kamu engga bisa. Hehe.” Dia selesai dengan segala triknya.

Aku hanya bisa mengerutkan kening dan mulutku. Tapi apa yang terjadi, tiba – tiba dia tertawa terbahak – bahak melihatku. Ini anak apa sih maunya ?? teriakku dalam hati. Sampai guling – gulling di pasir segala. Segera sebelum dia melanjutkkan tawanya kembali, aku segera menghentikannya. “Kenapa sih ketawa ?” ucapku. “loh, kenapa ? emangnya ga boleh ?” pfff pfff dia berusaha menahan tawanya. “ga boleh” ujarku ketus. Akhirnya setelah menguasai dirinya sepenuhnya dia berkata,” habis mukamu lucu, mirip bebek tadi.” Hahahaha tawanya meledak lagi. Aaaaaapaaaaaaaa???!!

Aku mengejarnya dengan membabi buta, pokoknya cowo ini ga boleh lepas. Dia harus dihukum karena keusilannya, bilang orang mirip bebek seenaknya saja. Hosh hosh hosh aku kecapaiannya mengejarnya, ternyata larinya cepat juga. “Ternyata selain mukamu mirip bebek, larimu mirip bebek juga hahahaha” ejeknya lagi. Oke kataku, ini harus berhasil. Aku mengerjainya, pura – pura pingsan jatuh ketanah. Tak sampai beberapa detik kemudian dia sudah ada disampingku, hyaaat kena. Aku menjitak kepalanya. Sepertinya dia terkaget. “Huuuh cuuraaaaang!!” teriaknya. “Liat nih kepala ku jadi benjol.” “Lah siapa suruh ngejek orang mirip bebek seenaknya.” “Oh iya yah katanya.” Kami tertawa bersama – sama. Tawa kami berderai seantero pantai. Tak kusangka akan bertemu orang di pantai favoritku yang dapat membuatku tertawa dan sejenak meninggalkan masalahku. “Ngomong – ngomong apa yang sedang kamu lakukan ? ohya namaku Andri.” ujarnya sambil tersenyum kepadaku. “Aku Dira.” Kataku sambil membalas senyumnya. “Ini tempat rahasiaku kalau lagi pusing. Jangan bilang siapa – siapa yah?” pohonku kepadanya. “Siiip tenang aja, serahkan padaku.” Katanya sambil menatapku penuh keyakinan.

Semenjak pertemuan yang aneh itu, kami menjadi akrab. Dia sering datang ke pantai favoritku. Membuatku selalu tersenyum ketika berada di dekatnya. Aku sempat heran dan bertanya – tanya, darimanakah dia, kenapa baru sekarang aku melihatnya. Tapi pertanyaan ini hanya aku simpan erat – erat dalam hati. Entah mengapa aku enggan menanyakannya. Seperti ada rasa segan ketika hendak menanyakan kepada dirinya. Selama dia ada disampingku aku merasa cukup, walaupun aku tidak mengetahui asal – usulnya tak mengapa. Asal dia dapat menghiburku dari dukaku.

Ayahku telah tiada, dialah sosok yang selalu menguatkanku, menjagaku, dan mengurusku sepanjang waktu. Ayah adalah anugrah terindah dalam hidupku. Ketika ayah pergi, perihnya tiada terkira. Aku hancur, butuh waktu lama bagiku untuk kembali berdiri tegak lagi, untuk menghadapi dunia. Makanya aku sering melarikan diri ke pantai. Karena aku dan ayah sering menghabiskan waktu bersama – sama di sana. Karena aku dapat merasakan jiwa ayah ketika berada disana. Aku sering curhat kepada angin yang lewat ketika di sana, dan berharap ayahku tersayang dapat mendengarnya dengan jelas. Aku merindukannya melebihi apapun. Akan kuberikan apa saja, jika bisa melihat ayah sekali lagi.

Mungkin Andri juga merasakan hal yang sama denganku, ia ingin melarikan dirinya dari kesedihan yang datang menghampirinya. Aku menikmati waktu – waktu bersamanya. Hari ini tepat setahun ayahku meninggal, aku membawa bunga bakung putih ke pantai. Aku belum menceritakan perihal ayahku kepada Andri. Mukanya agak sedikit bingung ketika aku menghampirinya. Ini untuk almahum ayahku, “maukah kamu menemaniku kemakamnya?” ucapku setegar mungkin. “Tentu.” Ucap Andri sepenuh hati. Aku mulai bercerita, biasanya aku hanya sendirian ke makam ayahku. Aku lebih suka sendiri, tidak bersama ibu dan adikku. Aku tak ingin menunjukkan kesedihanku di depan mereka. Aku takut mereka mencemaskanku, hehe cengirku. Selanjutnya kami menyusuri jalan setapak dalam diam di perjalanan. Andri hanya diam saja, dan aku juga sudah kehabisan kata – kata.

Makam ayahku di ujung jalan setapak ini, ujarku. Tanpa kusadari air mataku menetes. Tes.. tes.. tes.. jatuh ketanah. Andri yang melihatku menangis, langsung memelukku dengan erat. Seakan dia tahu rasanya kehilangan orang yang sangat berharga. Dia hanya diam, tak bicara. Dan aku masih menangis, terus menangis selama beberapa saat. Selama ini aku mencoba tegar, tetap saja ketika mengingat ayah telah tiada aku tidak sanggup. Setelah beberapa lama, Andri berbicara “Kamu mau duduk?” aku mengangguk. Dia menuntunku mencarikanku tempat duduk yang bersih. “Aku disini, kamu akan baik – baik saja. Tak ada yang perlu kamu risaukan Dira. Jangan biarkan ayahmu melihat kesedihanmu, tentu ayahmu akan risau denganmu nanti ketika melihat dirimu menangis seperti ini. Apakah kamu tidak kasihan kepada ayahmu?” perkataanya menyadarkanku. Aku harus kuat ujarku kepada diriku sendiri. Lalu perlahan – lahan aku mulai bangkit berdiri, “Ayo kita temui ayahku” ujarku. “Nah begitu dong, itu baru Dira yang aku kenal.” Ujarnya sambil tersenyum lebar kepadaku. Sesampainya di makam ayahku, kami berdoa dan mulai membersihkan makam. Aku bersyukur Andri berada di sampingku, entah bagaimana kalau tanpanya aku kesini. Diam – diam aku menganggapnya adalah pahlawanku yang berjasa tiada tara. Selalu melindungi dan membantuku disaat kesusahan. Aku tersenyum memikirkannya. “Hei, kenapa kamu senyam senyum ga jelas? Haha pasti lagi mikirin aku.” godanya. Eh engga kok, kataku berbohong. Pipiku merah seperti kepiting rebus. Huh dasar  Andri suka berkata sesukanya saja. Haaah, akhirnya selesai juga. “Ayah, makam ayah sekarang sudah bersih. Dira sama Andri pamit dulu yah. Nanti kami Insha Allah  kesini lagi.” Kami perlahan meninggalkan makam.

Dalam perjalanan pulang, “Terima kasih banyaknya sudah menemaniku ke makam ayah.” Ujarku. “Ahh, itu bukan apa – apa kok, engga usah berterima kasih segala kali Dir. Hehe.”  Kata Andri.  “Hahaha kalo bukan karena kamu mungkin tadi aku udah ga kuat di sana lama – lama Ndri J, ohya aku belum cerita apa – apa tentang ayahku ke kamu. Tepatnya setahun yang lalu Ayahku meninggal, ayahku kecelakaan motor. Aku menghela nafas, kemudian melanjutkan lagi. Ketika itu sedang hujan lebat sekali. Mungkin karena tidak hati – hati, motor ayah tergelincir. Ayah segera di larikan ke rumah sakit terdekat oleh warga sekitar yang melihat ayah tergelincir. Tetapi sesampai dirumah sakit ternyata ayah telah pergi ke tempat yang lebih baik. Alhamdulillah ayah meninggal pada hari jum’at. Hari baik menurut orang – orang. Ramai orang yang menyolatkan ayah Ndri. Jadi sekarang tinggal aku, ibuku, dan adik laki – lakiku. Tapi aku bersyukur, dulu ayah punya penyakit ginjal. Setiap satu minggu sekali ayah harus menahan sakit saat mencuci darah. Sekarang sudah tidak lagi. Yang penting ayahku bahagia ujarku.

Perasaanku mulai membaik, rasa sedih mulai sirna diringingi datangnya rasa bersyukur karena diriku telah memiliki ayah hebat seperti ayah dan ada teman setia yang selalu menghiburku dikala sedih. Sungguh tiada terkira betada bersyukurnya aku. kami sampai di Pantai favoritku, selama disana kami hanya diam membisu tapi atmosfer di sekeliling kami begitu tenang, damai merasukiku.

Melihat mentari sebentar lagi akan terbenam, sosoknya tenang  mulai kembali ke lautan. Perlahan mulai perlahan, begitu indah sehingga membuat kami terpana. Tak pernah aku melihat pemandangan seindah itu. Bumi telah menunjukkan keindahannya pada kami sore itu. Tak salah aku memilih pantai ini sebagai pantai favoritku. Terima kasih Tuhan ucapku dalam hati. Akhirnya mentari kembali ke ufuk barat. “Hei ayo pulang.” Ujarnya kepadaku. “Yuk” balasku. Kami berpisah diujung perempatan rumahku. Rumah Andri berbeda arahnya dengan rumahku. Dia mirip ayahku, selalu melindungiku. Dia melihatku sampai aku sampai di pagar rumahku dan kemudian berbalik menuju ke rumahnya. Aku belum pernah mengunjungi rumah Andri. Hmmm, seperti apa kiranya rumahnya. Dia tak pernah mengajakku kerumahnya. Aku bertanya – tanya kenapa. Baiklah, kuputuskan akan mengunjungi rumahnya nanti.

Hari selanjutnya ketika aku menemuinya, “Ndri, tunjukin dong, rumah kamu.” pintaku. “Eh rumahku??” tanya Andri sedikit bingung. “Iya Andri rumah kamu.” Ulangku sekali lagi. Mukanya agak pucat dan kelihatan aneh. Ia berujar,  “Kapan – kapan aja deh.” Aku ingin menyanggahnya lagi, tetapi keburu tidak enak hati kepada Andri. “Okeh, tapi janji ya lain kali.” Balasku. “Siiiip tenang aja.” Ujar Andri. Kemudian kami bermain seperti biasa di pantai favoritku.

Sampai sekarang, aku masih mengingat janji Andri kepadaku yang tak pernah terealisasikan kepadaku. Ya kejadian itu 3 tahun lalu, beberapa hari kamudian Andri amat sangat jarang kutemui. Kemanakah gerangan dirinya ? aku gelisah. Sibuk mencarinya sana sini. Tapi tak seorang pun yang mengetahui keberadaan dirinya. Bahkan ibuku malah bertanya balik kepadaku, siapakah Andri itu ? Bude yang berjualan di pantai favoritku pun juga mengatakan hal yang sama. “Non yakin ada anak muda yang sering menemani non kesini? Karena bude selalu melihat non bermain sendiri kesini dan berbicara sendiri.” Jederrr pernyataan bude sungguh mengagetkanku. Fikiranku berputar – putar di kepalaku. Apakah selama ini aku hanya berhalusinasi. Benarkah seorang Andri yang ku kenal selama ini tidak nyata. Tidak fikirku, aku dapat menyentuhnya, aku dapat mendengarnya berbicara, aku dapat melihat sosoknya yang gagah, aku dapat menyium wanginya yang khas ketika bersamaku, aku dapat merasakan kehadirannya. Siapakah Andri ini ? apakah mungkin aku selama ini bermain bersama teman khayalan. hiii, memikirkannya saja aku sudah merinding. Aku sungguh tidak yakin, bingung, kecewa, marah bercampur aduk menjadi satu.

Sampai sekarang aku masih di sini, di pantai favoritku menanti sosoknya kembali. Andri aku yakin kamu ada. Tetapi kenapa kamu tiba – tiba menghilang. Tiada lagi yang menghiburku ketika sedih, tiada lagi yang dapat memberikan lelucon – lelucon konyol untuk membuatkku tertawa terbahak – bahak. “ANDRIIIIIIIIIII DIMAAANAA KAMMMUU??.” Teriakku di tepi pantai. Aku ingin terus menunggunya, aku yakin kelak dia akan kembali dan bilang ini hanya lelucon. Ini hanyalah keisengan dia. Tapi dia tak kunjung kembali. Hal ini sungguh membuatku stress. Aku merasa jiwaku sudah terganggu. Bagaimana bisa hanya aku yang menyadari kehadiran Andri. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” aku kelelahan dan ketiduran didekat bebatuan di tepi pantai. Aku tak memedulikan lagi dimana aku tertidur, yang penting aku bisa istirahat sejenak dari hal yang membuatku gundah ini. Tak peduli aku berada di pantai, karena aku yakin, ini hanyalah satu – satunya tempat teraman untukku sekarang.

Dalam tidurku aku bermimpi, ada sosok di tepi pantai. Aku mengenali sosoknya. Kudekati sosok itu. Ya benar tebakanku, itu Andri.” Andriiiiiii!!” teriakku. Aku berlari kearahnya, lalu kujitak. “Aduuh, kamu apa – apaan sih?! Sakit tauuuu.” Erangnya. “Kamu yang apa – apaan, kamu seenaknya pergi tanpa meninggalkan pesan, tak taukah kamu selama ini aku khawatir, selama ini bingung, dan mungkin hampir dibilang orang sudah tidak waras lagi karena ga ada yang menyadari sosokmu.” Rengekku. Andri yang mendengar itu hanya tersenyum saja. “Kamu hutang penjelasan kepadaku pokoknya.” Tegasku. “Iya – iya maaf deh, maafkan aku. aku kira kamu sudah melupakan aku, tapi ternyata kamu malah menunggu terus di pantai selama 3 tahun ini lamanya. Maafkan aku.” ujarny lagi. “kamu pasti merasa aneh, kenapa tidak ada satu orangpun yang mengingatku, mendenger namaku saja tidak. Iya kan?” ujar Andri. “Ho’oh, kamu sebenanrnya siapa sih, terus dulu aku juga meminta untuk melihat rumahmu kamu juga ga beritahu.” Balasku cepat. Andri tersenyum lagi, “iya aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Sebenarnya…

Tiba – tiba aku terbangun, Arrrgggh ucapku dengan kesal, kenapa aku harus terbangun. Aku harus mendengar penjelasan dari Andri. Aku ingin mendengarkan penjelasan Andri. Aku menangis, kesal dengan keadaan yang tidak mendukungku. Selama ini aku terus menunggunya, aku merasa seperti orang bodoh yang terus menerus melakukan hal sia – sia. Kamudian, ada orang yang menepuk pundakku, aku terkejut. Lalu melihat siapa itu “Andriiiiiii.” Pekikku girang. Aku kira kamu Cuma mimpi. Tunggu kamu bukan mimpi kan?” aku mencubit pipinya, “horee kamu nyata.” Teriakku. Andri hanya tersenyum melihat tingkah kekanakanku. Akhirnya dia berkata, “waktuku ga lama, aku kesini hanya ingin menyampaikan suatu hal. Dengarkan aku dengan baik Dira.” “Baik Ndri.” Ucapku. Andri menarik nafasnya dalam – dalam, hmmm haah “sesungguhnya aku bukan manusia Dira.” Eh aku tertegun mendengar perkataannya. “Kamu pasti bercanda kan? Hahaha kamu lucu deh.” Ejekku. “Tidak Dira dengarkan aku, kalau aku nyata kenapa tidak ada yang bisa mengingatku, kenapa tidak ada yang bisa menyadariku, kenapa tidak ada yang pernah melihatku?” Andri berkata dengan pahit. Ia melanjutkan, “aku bertemu ayahmu, dia sangat mengkhawatirkan putri kesayangannya. Ia selalu memperhatikannmu dari atas. Tapi tak punya kemampuan untuk membantumu. Ia memohon sedaya upaya agar aku dapat menghiburmu, karena hanya akulah yang sanggup untuk keluar dari tempat ayahmu, karena aku adalah malaikat. aku tidak sanggup melihat penderitaanmu. Aku kemudian turun kebumi untuk menghiburmu dan kemudian berniat pergi ketika sedihmu sudah hilang, tetapi hal itu ternyata malah memperparah sedihmu. Aku seharusnya tak pernah turun. Dunia kita berbeda satu sama lain. Tapi entah mengapa aku tetap melakukannya. Itulah sebabnya aku menghilang selama ini, karena aku menganggap kamu sudah bahagia. Tapi malah membuat kamu menderita. Sungguh maafkan aku. aku pergi, karena aku menginginkanmu untuk melupakanku. Tapi kamu malah menunggu selama 3 tahun di pantai ini, pantai favoritmu. Aku tak sanggup melihatmu menunggu lebih lama lagi. Aku tahu betapa sungguh tersiksanya kamu. Maaf ujarnya berulang – ulang kali.”

Aku memeluknya, “Tidak terima kasih, karena telah menemaniku di masa – masa sulit. Tanpa kamu, aku tidak sanggup bertahan di dunia ini. Aku sungguh berterima kasih dapat mengenal kamu.” Andri tersenyum, senyum termanis yang selama ini pernah kulihat. Perlahan – lahan sosoknya memudar, tak lagi padat. Aku tak dapat lagi menyentuh dirinya. Perlahan tapi pasti ia mulai kembali ketempat dimana ia seharusnya berada. Sosoknya kembali ke atas. Air mata mengalir deras di pipiku. Dia Andri, dialah malaikat yang selalu menjagaku. Terima kasih malaikatku. Sekarang aku tenang, karena aku telah yakin engkau ada. Suatu saat aku berharap, kita dapat bertemu lagi di situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk kita bersama. Aku takkan pernah melupakanmu wahai malaikatku, aku yakin kamu selalu berada didekatku. Aku  percaya kita akan bersatu lagi.


Facebook
Twitter
More...

let's talk ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s