Tentang Arti Sebuah Ketulusan


Beberapa minggu yang lalu saya mengalami musibah, dompet saya hilang. Semua identitas diri dan surat-surat berharga berada di dalam dompet itu, dan data-data tersebut belum sempat terbackup. Well, pasti tau ya gimana paniknya kehilangan semua benda tersebut, dan dalam keadaan berada jauh dari keluarga. Hanya teman-teman “terdekat” yang bisa diandalkan sepenuhnya.

Dan dari awal semua kepanikan adalah mengetahui dompet yang telah hilang berjam-jam sebelumnya. Bahkan uang pun berada di dalam dompet. Tak ada yang tersisa. Pada pagi harinya (dompet hilang pada malam hari) berinisiatif untuk melacak keberadaan dompet tersebut karena ada saksi yang melihat orang yang menyimpan dompet saya dan mengikutinya diam-diam. Setelah melalui berbagai macam saksi dan tempat dan merasa seperti detektif pada kasus yang tak pernah selesai, hasil yang didapat adalah nihil.

Memutuskan untuk ke kampus, karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain itu, dan lalu menceritakan masalah yang sedang dialami kepada teman-teman dekat saya. Satu hal yang saya temui di dalam arti pertemanan tersebut adalah tak semua teman yang kita anggap suatu saat di saat saya ada masalah akan rela membantu akan berbuat seperti itu. Entahlah mungkin saya belum menjadi teman yang cukup baik bagi mereka? bisa saja. Atau mungkin mereka hanya sibuk dengan dirinya masing-masing. Sekarang warna aslinya sedikit mulai sedikit terkuak. Saya tidak menyesal berteman dengan mereka, tetapi sekarang saya tau siapa saja yang bisa saya harapkan. Malah orang-orang yang saya expect the least adalah orang-orang yang langsung bergerak membantu saya. Saya bersyukur sekali dengan keberadaan mereka.

Pada akhirnya saya sudah mendapat terduga ternyata saya hanya benar mengenai kosan tersebut, tetapi salah orang. Pulang dengan dengan keadaan gontai mencoba ikhlas dengan segala sesuatu yang terjadi. Saya online twitter dan melihat mention, dan yak di sana ia berada. Lupa mengecek akan hal-hal sederhana, dan malah melalui jalan yang susah menjadi detektif. sigh..

Saya tak tahu harus  berkata apa, saya sebelumnya sudah benar-benar hopeless dengan keadaan ini, dan Allah Swt menunjukkan kepada saya kuasa-Nya. Alhamdulillah ya Allah, sungguh engkau Yaa Muk’min (Maha Pemelihara Keamanan) dari hal-hal yang berbahaya, Yaa Razzaq (Maha Pemberi Rizki) memberi jalan bahwa dompet tersebut masih rezeki hamba, Yaa Bashiir (Maha Melihat)  kesusahan hambanya, Yaa Fattaah (Maha Membukakan) permasalahan hamba dengan solusi yang tak terduga-duga, Yaa Rahman (Maha Pemurah) dengan segala nikmat yang telah Engkau Berikan, dan maafkan hamba belum banyak ibadah yang hamba luangkan dari waktu yang Engkau berikan ini. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon

If there is a will, there is a way

Jangan pernah menyerah samppai akhir, Allah selalu punya rencana untuk kita

Terima kasih untuk mengajarkan saya arti ketulusan sesungguhnya :

  1. Mama – menenangkan saya pada pagi hari, dan berkata tak perlu panik karena itu sudah terjadi.
  2. Papa – pada awalnya sempat upset, kemudian menawarkan untuk datang ke sini
  3. Kak Dhini – pagi-pagi sudah mengisikan pulsa saya yang ketika itu habis untuk memblokir kartu atam
  4. Pada intinya keluarga saya yang berada di Batam yang ikut concern sama saya yang berada jauh di Fikom Universitas Padjadjaran
  5. Maya Natela – orang yang pertama kali mengetahui kejadian tersebut pada pagi-pagi buta, rela bangun awal dan menawarkan bantuan pertama kepada saya
  6. Rahmadayu Febrina – rela pagi-pagi saya ketuk kosannya untuk menyanyakan kepada  anak kosannya yang terduga
  7. Natasha Agatha – rela panas-panasan mengantar saya ke kantor polisi, kembali lagi ke kampus
  8. Aa penjaga laundry – sebagai saksi
  9. Aa penjaga kosan – tempat terduga berada
  10. Aa Ojek – yang ikut concern tentang masalah saya
  11. Teteh dan aa geologi – yang sempat menjadi korban salah sangka, maaf yaa
  12. Akbar Rusmana S. dan temannya – yang menyimpan dompet saya dan mengembalikannya
  13. Shendy Prabandari – yang memberikan nomor teman SMA nya Akbar (penemu dompet saya)

terima kasih tiada tara saya ucapkan, walaupun itu menurut orang-orang diatas biasa saja tapi hal itu sangat berarti.

Saya belajar tak semua orang yang kita anggap teman dekat belum berarti mereka rela membantu kita pada saat susah. Sekarang saya bisa melihat lebih jernih arti saya di mata mereka. Malah biasanya orang yang kita paling tidak sangka adalah mereka yang berhati tulus merelakan tenaga dan waktu mereka untuk benar-benar membantu menyelesaikan persoalan. Saya belum bisa membalas satu persatu semua jasa orang-orang di atas, saya berniat  semoga suatu saat bisa membalas jasa mereka. Amin

dompetkuuu

10 October 2012 is really really something.

About these ads

let's talk ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s